PILIHAN

Sosialisasi Sadar Wisata Pantai Selatan Yogyakarta dan Pengurangan Risiko Kecelakaan Laut

19 Juni 2017 08:09:38 Diperbarui: 19 Juni 2017 08:15:48 Dibaca : 25 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Wisata Pantai atau Wisata Bahari merupakan salah satu pilihan obyek wisata yang masih banyak di gemari di negeri ini. Tidak terkecuali wisata pantai yang berada di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seperti Pantai Parangtritis, Pantai Parangkusumo, Pantai Parang Wedang, Pantai Samas, Pantai Cemara, Pantai Kwaru, Pantai Pandansimo, Pantai Glagah, Pantai Congot.

Sedangkan pantai-pantai di wilayah Gunungkidul seperti: Pantai Langkap, Pantai Butuh, pantai Baron, Pantai Slili, Pantai Krakal, Pantai Sungap, Pantai Indrayanti, Pantai Pok Tunggal, Pantai Wediombo, Pantai Sadeng, Pantai Ngongap dan obyek wisata pantai rintisan lainnya merupakan pilihan para wisatawan untuk mengunjunginya.

Masing-masing pantai tentunya memiliki keunikan tersendiri, disamping panorama alam yang mengelilinginya, juga eksotisme lokasi menampakkan perbedaan sehingga selalu menarik untuk dikunjungi. Sebagai contoh: Pantai Parangtritis yang sudah kesohor di dunia yang dikenal dengan keunikan gumuk pasir (sand dune) serta panorama sunset-nya hampir setiap akhir pekan dan musim liburan selalui dipadati pengunjung. Di pantai ini juga ditemui zona religi, zona pertanian lahan basah dan kering, disamping pula wisata kuliner lokal.

Demikian halnya pantai-pantai lain seperti telah dipaparkan di atas juga memiliki  keindahan alam khas, dilengkapi sarana dan prasarana pendukung yang bernuansa estetik serta unik untuk memberi layanan demi kenyamanan para wisatawan.

Berkait pengembangan wisata pantai, sudah barang tentu banyak aspek yang perlu diperhatikan. Keberadaan wisata-wisata pantai selatan di wilayah Yogyakarta ini perlu sentuhan manajemen yang proporsional, tenaga yang profesional dan tidak bisa lagi ditangani secara konvensional. Hal ini tentunya logis mengingat tuntutan pelayanan publik dan semakin membanjirnya arus wisatawan seiring promosi yang gencar dilakukan selama ini, sehingga kenyamanan sekaligus keamanan pengunjung bisa terjamin.

Membicarakan wisata pantai dengan pesona dan keunikannya, ditambah lagi gencarnya promosi dari waktu ke waktu memang akan menarik minat para wisatawan untuk mengunjungi obyek wisata yang ditawarkan. Melalui kemasan bahasa dan spot-spot gambar yang manis, indah menawan dan dipublikasikan secara massif melalui media massa ataupun media onlinetentu merupakan magnet penggugah yang nantinya diharapkan menambah tingkat kunjungan wisatawan.

Dampak dari komunikasi dalam bentuk promosi itu semua (baca: promosi yang gencar) pastinya tidak hanya sebatas target kunjungan wisatawan yang bertambah, sehingga pendapatan asli daerah (PAD) meningkat. Konsekuensi yang perlu dipikirkan adalah menyangkut fasilitas penunjang dan pelayanan bagi wisatawan yang akan berkunjung.

Oleh karenanya, promosi yang dilakukan akan membawa konsekuensi-konsekuensi diantaranya: perlu dibarengi peningkatan sarana dan prasarana wisata, termasuk perlunya antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan laut (laka laut) yang kerap membawa korban.

Sosialisasi sadar wisata dan kecelakaan laut

Untuk menjaga keberlangsungan dan kualitas obyek wisata serta kenyamanan sekaligus keamanan pengunjung di pantai selatan wilayah Yogyakarta ini tentu banyak hal yang perlu diperhatikan.

Langkah umum yang sering dilakukan dalam dunia kepariwisataan adalah dengan menerapkan konsep Sapta Pesona, yaitu pengondisian obyek wisata yang aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan). Barang tentu ini semua harus melibatkan pihak terkait, termasuk masyarakat di lingkungan setempat dan juga para pengunjung obyek wisata.

Sosialisasi atau mengkomunikasikan Sapta Pesona secara berkelanjutan terutama yang dilakukan Dinas Pariwisata Yogyakarta beserta mitra kerjanya. Sosialisasi terhadap calon pengunjung obyek wisata bisa dilakukan melalui cara proaktif misalnya mendatangi tempat-tempat atau kota di luar Yogyakarta -- yang sebagaian besar masyarakatnya sering berwisata ke wilayah provinsi DIY. Forum-forum dialog layak diciptakan dengan sasaran kelompok sosial, lembaga, tokoh masyarakat formal/nonformal ataupun  lembaga pendidikan/sekolah yang setiap kali liburan melakukan kunjungan wisata ke Yogyakarta.

Menjelaskan tentang obyek-obyek wisata di Yogyakarta khususnya mengenai obyek wisata pantai selatan secara komprehensif dengan keunikannya masing-masing akan memberikan gambaran yang utuh dan lengkap tentang situasi maupun kondisi nyata sehingga bilamana nanti hendak melakukan kunjungan wisata ke Yogyakarta sudah dibekali informasi berupa wawasan yang cukup memadai.

Sosialisasi dalam konteks ini memang secara langsung atau tidak, terkesan sebagai langkah pengenalan atau pembekalan, bisa juga disebut sebagai promosi wisata dengan harapan dapat meningkatkan kunjungan wisatawa ke Yogyakarta. Akan tetapi bukan tidak mungkin bahwa pantai selatan di wilayah Yogyakarta juga mengandung ancaman bagi pengunjung. Ancaman ini pantas diutarakan pula dalam sosialisasi dengan harapan untuk mengantisipasi jangan sampai terjadi hal yang sama di kemudian hari.

Di bulan Mei 2017 ini tercatat beberapa kecelakan laut (laka laut) yang membawa korban jiwa. Diantaranya terpetik berita bahwa:  di wilayah Pantai Sedahan Jepitu Girisubo Gunungkidul Sabtu (13/5/2017), seorang bernama Irfan Aprilyansah (19 tahun) mahasiswa berasal dari Lubuk Linggau Sumatra Selatan berfoto-foto di pinggir pantai, nahas tergulung ombak, korban ditemukan sudah tidak bernyawa oleh petugas SAR.

Sabtu sore (13/5/2017) tiga pelajar berasal dari Bekasi Jawa Barat berkunjung di Pantai Parangtritis bermandi di laut dan terseret arus ombak, ketiga korban bernama Muh Reinaldi (15 tahun), Muh Maulana (15 tahun) dan Aldi Sadili (15 tahun). Beruntung Tim SAR Polair Parangtritis yang sedang berjaga berhasil mengevakuasi ketiga korban dan selanjutnya dirujuk ke RS Penambahan Senopati Bantul untuk mendapat perawatan.

Di hari yang sama terjadi kecelakaan laut di Pantai Drini Tanjungsari Gunungkidul, Korban Samsudin (16 tahun) dan Irfan Bumnastian (13 tahun). Kedua korban merupakan rombongan wisata dari Pondok Pesantren Tasikmalaya bermain air di alur kapal, disaat terjadi ombak besar dan kedua korban terseret. Samsudin belum ditemukan, namun Irfan Bumnastian selamat. Irfan yang sempat mengalami pingsan kemudian mendapat perawatan di RSUD Wonosari

Sepintas cuplikan berita tersebut menandakan bahwa di lokasi wisata pantai selatan Yogyakarta bukan hanya keindahan, keunikan dan eksotisme serta panorama alamnya  yang perlu diketahui dan dipahami pengunjung. Ancaman yang bisa merenggut nyawa manusia yaitu kecelakaan laut -- menjadi penting disertakan dalam sosialisasi. Ini mengingat karakteristik pantai laut selatan di Yogyakarta yang arus ombaknya cukup besar, adanya tebing-tebing pantai yang curam, setiap saat bisa menyebabkan korban jiwa. Antisipasi lebih jauh sangatlah diperlukan demi keamanan dan kenyamanan pengunjung wisata.

Mengenalkan dan mempromosikan obyek wisata kepada khalayak luas nampaknya tidak hanya mengemukakan hal-hal yang manis belaka. Justru yang pahitpun menjadi layak disertakan, seperti risiko dan ancaman yang bisa terjadi di lokasi wisata pantai selatan Yogyakarta. Langkah ini bukan sebagai upaya menakut-nakuti, namun lebih pada tujuan untuk mengurangi kecelakaan laut yang seringkali membawa korban nyawa sekaligus dapat meningkatkan citra kepariwisataan di Yogyakarta. (Fransiska Rosilawati).

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana