Doa Idul Fitri Menetes Air Mata

18 Juli 2015 09:34:40 Dibaca : 8713 Komentar : 3 Nilai : 5 Durasi Baca :
Doa Idul Fitri Menetes Air Mata

 

Suasana beberapa saat sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1436 H di alun-alun eks MTQ k ota Kendari/Ft: Mahaji Noesa

Lebih dari 10.000 jamaah shalat id (Idul Fitri) 1 Syawal 1436 H (Jumat,17 Juli 2015 M) yang memadati alun-alun eks MTQ di pusat kota Kendari, ibukota provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tampak sebagian besar terisak menetes air mata, saat khatib memanjatkan doa.

Melalui paparan khotbah Idul Fitri bertema ‘’Puasa Mencegah Manusia Bersifat Tamak (Keserakahan)’’ yang disampaikan DR Sukring Syamsuddin, M.Pd.i, Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Islam MUI provinsi Sultra menyampaikan pesan moril, bahwa serakah adalah salah satu dari penyakit hati dan mempunyai efek sosial yang berbahaya. Orang yang serakah selalu menginginkan sesuatu lebih banyak, tidak peduli apakah cara yang ditempuh dibenarkan oleh syariat atau tidak.

Bahkan untuk memenuhi keserakahannya, orang serakah seringkali tidak peduli walaupun harus mengorbankan kehormatan orang lain termasuk kehormatan dirinya sendiri. Baginya yang terpenting adalah bagaimana kebutuhan nafsu syahwatnya terpenuhi. Oleh karena efek bahayanya itu, bila tidak segera dibersihkan penyakit sosial ini dapat menimbulkan malapetaka. Keserakahan akan membuat mata hati dan pendengaran seseorang menjadi tumpul.

Serakah, katanya, juga menjadi pintu masuknya setan ke dalam hati seseorang, dan setan pun akan menghiasinya dengan sifat-sifat tercela lainnya. Lebih celaka lagi, orang yang serakah selalu menganggap baik apa yang dilakukannya, meski kebanyakan orang melihatnya sebagai suatu keburukan.

Justru diingatkan, ramadhan bulan puasa yang baru saja berlalu sebagai strategi untuk melahirkan manusia ideal yaitu manusia yang ikhlas, shaleh kuat hati nurani dan kesadarannya setara dengan ketinggian dan kecemerlangan otaknya yang tanpa noda. Hatinya tercurah pada keindahan dan kebeningan rohaninya, seirama dengan keperkasaannya menguasai bumi, gunung, dan angkasa raya. Di tangannya tergenggam semangat perjuangan, sedangkan dalam dadanya bersemi hati yang penuh kasih sayang, kepalanya berisikan otak yang encer yang haus berpikir, sanubarinya penuh cinta kepada Tuhan. Keterlibatan politiknya tidak menyeretnya kepada keangkuhan dan ria. Ilmunya tidak mengurangi cita keyakinannya. Kesalehannya tidak mengubah menjadi pertapa yang tak berdaya dan kesepian. Dia manusia pejuang dan ijtihad, manusia yang halus perasaan dan pemberani, menghimpun segala dimensi kemanusiaan yang utuh dan unggul.

Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam tampak menerima ucapan selamat Idul Fitri bebas dari para jamaah usai mengikuti Shalat Id di alun-alun eks MTQ kota Kendari/Ft: Mahaji Noesa

Justeru sebagai umat tempaan ramadhan, Sukring Syamsuddin mengajak, agar mengimplementasikan taqwa sebagai refleksi diri ke dalam wujud nuansa kehidupan pribadi yang berkarakter, yakni manusia yang kokoh jati dirinya, jelas identitasnya dalam segala cuaca, ruang dan waktu. Bersedia memberi dan menerima kebenaran dan dimanapun datangnya, mau mengendalikan diri baik tatkala di atas puncak kekuasaan, puncak prestasi dan keberhasilan maupun dalam musibah, kejatuhan, kegagalan dan kemiskinan sekalipun. Kualitas taqwa seperti itu, katanya, dapat membuat keunggulan dan tampil sebagai pelopor pembangunan.

Pelaksanaan shalat Id di alun-alun eks MTQ kota Kendari dilaksanakan oleh PHBI Provinsi Sultra. Selain khatib Sukring Syamsuddin terdengar terputus-putus dan terisak ketika membaca doa yang merupakan bagian dari khotbah kedua. Sebagian besar dari lebih 10.000-an jamaah shalat id yang duduk tekun mengikuti penyampaian khotbah di alun-alun arah timur Tugu Persatuan yang dijuluki sebagai Monasnya kota Kendari tersebut, tampak ikut terisak, dan di deretan jamaah wanita bahkan terdengar banyak yang terseduh berlinang air mata. Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam yang mengikuti shalat id juga tampak terharu dengan mata berkaca-kaca.

Sepanjang tepian kolam alun-alun eks MTQ kota Kendari juga dipadati jamaah shalat Idul Fitri 1 Syawal 1436 H/Ft: Mahaji Noesa

Inilah petikan sebagian ucapan doa di khotbah kedua Sukring Syamsuddin yang mengharukan tersebut:

‘’Ya Allah saat-saat yang syahdu ini, kami segenap hamba-hamba-Mu, berkumpul, bersimpuh di tempat yang suci yang penuh rakhmat, menyebut namaMu yang agung, berzikir, bermunajat kepadaMu dengan takbir, tahmid, dan tahlil.

Duhai Rabb kami yang Maha Penyayang, sayangilah para ustadz, guru-guru kami, lindungi dan bimbinglah mereka. Lapangkan rezkinya, kuatkan azamnya dan berkati jalannya.

Ya Allah, bersihkan hati dan jiwa ini dari hasad dan dengki, persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta karenaMu dan dalam ketaatan kepadaMu, jangan Engkau  biarkan setan musuhMu menggerogoti persaudaraan kami.

Ya Allah, berilah bimbinganMu untuk pemimpin negeri ini agar dapat berlaku adil dengan syari’atMu di atas bumi yang tidak sejengkalpun melainkan milikMu.

Duhai yang Maha Menyelamatkan, Engkau pelindung kami, Engkau pemberi petunjuk orang-orang bingung, Engkau pemberi kecukupan orang yang kekurangan, Engkau pemberi ketenangan orang yang gelisah.

Ya Allah, yang sakit Engkau sembuhkan, yang lupa Engkau ingatkan, yang gelisah Engkau tenteramkan, yang sedih Engkau gembirakan, yang meminta Engkau beri dan kabulkan.

Ya Rabbi, ampuni kami atas kehilafan dan dosa kami kepada anak-anak kami, suami, isteri kami, belum mampu mendidik dan membahagiakan mereka.

Ya Allah, yang mengetahui segala keburukan aib dan maksiat, ampuni seburuk apapun masa lalu kami, tutupi seburuk apapun aib-aib kami.

Ya Rabb, karuniakan kami jasad yang terpelihara dari maksiat, terpelihara dari harta haram, makanan haram, perbuatan haram. Izinkan jasad ini pulang kelak, jasad yang bersih.

Ya Allah, bukakanlah lembaran-lembaran baru yang bersih yang menggantikan masa lalu kami.

Ya Allah Tuhan yang Maha Penyayang, sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami, yang telah berpeluh lelah merawat dan mendidik kami. Ampuni setiap kata keras kami yang pernah terlontar pada mereka, Ya Allah. Ampuni sikap tak peduli kami atas mereka, Ya Rabb. Berikan kesempatan kami berbakti kepada mereka, Ya Allah. Lembutkan hati mereka untuk kami agar ridha mereka mengantar kami kepada RidhaMu, Ya Allah. Dan, jika Engkau telah mengambil mereka ke haribaanMu, maka basuhlah mereka dengan kelembutan ampunan dan rakhmatMu, serta pertemukan kami dengan mereka dalam keabadian nikmat syurga tidak akan nikmat tanpa bersama kedua orang tua kami.

Ya Rabb, bukakan pintu hati kami agar selalu sadar bahwa hidup ini hanya mampir sejenak, hanya Engkau tahu kapan ajal menjemput kami, jadikan sisa umur menjadi jalan kebaikan bagi ibu bapak kami, jadikan kami menjadi anak yang shaleh yang dapat memuliakan ibu bapak kami.’’

 

      

     i

Mahaji Noesa

/mahajinoesa

TERVERIFIKASI

DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana