PILIHAN HEADLINE

Kekerasan terhadap Wartawan Masih Terjadi dan Terabaikan

19 Juni 2017 04:16:55 Diperbarui: 19 Juni 2017 13:23:49 Dibaca : 94 Komentar : 3 Nilai : 3 Durasi Baca :
Kekerasan terhadap Wartawan Masih Terjadi dan Terabaikan
Ricky Prayoga ketika dimintai penjelasan oleh rekan-rekan seniornya di Wisma Antara, Senin pagi. (Dokpri)

Kekerasan Terhadap Wartawan Bagai Air Mengalir ke Laut
Pers kini masih dapat didefinisikan sebagai nyamuk, mahluk pengganggu orang yang tengah nyenyak tidur. Jika menggigit, meski tak melukai secara langsung, binatang lebih kecil ukurannya dari butiran beras itu dapat membuat seseorang menjadi marah karena gigitannya.

Karena itu, profesi wartawan kini masih menjadi "musuh" bagi sebagian aparat. Sederet wartawan korban kekerasan dalam medan liputan sudah sering terdengar. Terakhir dialami oleh wartawan Antara, Ricky Prayoga, yang tengah meliput turnamen bulu tangkis Indonesia Open 2017.

Yoga, sapaan akrab Ricky Prayoga, menjadi korban kekerasan oknum Brimob yang bertugas di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu.

Masih mengenakan "ID card" peliput kejuaraan bulu tangkis Indonesia Terbuka, Yoga dibekap dan ditarik oleh beberapa anggota Brimob untuk dibawa ke suatu tempat. Ia berontak. Kejadiannya sekitar pukul 15.00 WIB. Tatkala mendatangi satu ATM di JCC, seorang anggota Brimob bernama Adam mendekati dan memandangnya.

"Saya mengira ada yang salah dengan saya, lalu saya tanya ke petugas itu apa ada yang salah dengan saya," kata Yoga.

Mendapat pertanyaan seperti itu petugas malah marah-marah dan bilang, "Apa kau, ada undang-undangnya jangan melihat," kata Adam sambil mengucap kata-kata kasar seperti dikutip Yoga.

"Setelah itu Adam dan tiga orang rekannya berusaha mengamankan saya seperti saya sorang maling, saya sempat dipiting dan akan dibanting. Karena kejadian itu dekat dengan media 'center', saya berusaha menuju ke sana meski masih dipegang," kata Yoga.

Situasi kekerasan ini pun terekam video, termasuk terdengar suara-suara keras dari oknum petugas Brimob itu.

Seperti biasa, usai kejadian komentar pun bermunculan. Anggota Komisi III DPR Didik Mukrianto mengecam tindak kekerasan yang dilakukan oknum Brimob terhadap Yoga yang sedang tugas jurnalisitiknya. Harus ada tindakan tegas dari Kapolri terkait peristiwa tersebut.

Ia menyesalkan dan mengecam perilaku kasar yang ditunjukkan oleh oknum Brimob terhadap Ricky Prayoga yang sedang menjalankan profesinya. Anggota Polri seharusnya menjadi pengayom masyarakat. Idealnya polisi juga memahami bahwa kerja seorang jurnalis dilindungi UU 40 tahun 1999 tentang Pers.

Tentu saja perilaku kasar dan kekerasan yang dilakukan oleh oknum Brimob tersebut, dapat menciderai rasa aman dan citra Kepolisian yang seharusnya menjadi tanggung jawab institusi tersebut. Komentar nada mengecam juga datang dari organisasi pers seperti PWI, AJI dan lainnya.

Ini menunjukkan bahwa anggota Brimob itu masih mengedepankan sikap arogan dan tidak menyadari fungsinya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane.

Harus ada penyelesaian hukum yang tegas dan berkeadilan atas peristiwa penganiayaan tersebut," kata Ketua Umum DPP Gema Mathla'ul Anwar (MA) Ahmad Nawawi.

Direktur Utama Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Meidyatama Suryodiningrat sangat menyesalkan peristiwa kekerasan yang menimpa anak buahnya.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Rikwanto berjanji akan memberikan perhatian terhadap peristiwa yang dialami Yoga.

"Ya diatensi (dan informasi) diteruskan ke Brimob," ujar Rikwanto.

Sejatinya kekerasan terhadap wartawan bukan hanya menimpa Yoga. Di berbagai event, di berbagai kota pernah terjadi dan berulang lagi. Apakah itu di medan konflik atau dalam situasi damai. Pada peristiwa unjuk rasa, potensi kekerasan kepada awak media pun kini mulai terlihat.

Jika kita melihat ke belakang, pada orde lama, pers mendapat posisi terhormat namun dalam tekanan berat. Terhormat lantaran pers masih disebut sebagai "ratu dunia", karena apa saja yang disampaikan dapat menjadi pembenaran. Pers juga dapat menggiring opini publik meski selalu terancam pemberedelan. Tapi, produk jurnalistiknya masih cukup kuat dipercaya masyarakat karena jumlah media massa masih dibatasi.

Kini pandangan "ratu dunia" bagi pers yang terasa feodal itu surut, karena publik makin melek media. Ungkapan Kaisar Napoleon Bonaparte lebih takut kepada ujung pena (media massa/pers) ketimbang barisan persenjataan berat di medan perang, pun dewasa ini sudah terasa usang.

Lantas, apa fungsi pers masih melekat padanya? Masih independen kah? Tergantung, dari sudut mana anda memandang dan untuk kepentingan apa?

Pada era reformasi ini, di antara sederet fungsi pers (seperti penyampai informasi (dan pendidikan), hiburan dan kontrol sosial), fungsi terakhir yang paling menonjol. Kontrol dimaknai sebagai kritik kepada penguasa (pemerintah). Informasi mengandung kritik lebih disukai publik ketimbang berita lainnya. Kalaupun berita hiburan masih menonjol di sejumlah tayangan layar kaca (TV), tetapi tatkala isu politik naik dan menjadi panglima, pers pun tampil di depan.

Hal itu membawa konsekuensi pada profesi jurnalis. Pers ke depan akan menghadapi tantangan berat. Potensi kekerasan terhadap wartawan dalam berbagai medan liputan siap "meletup". Kini dan esok, kekerasan terhadap pers terus mengancam. Peristiwanya pun cepat terlupakan begitu saja, bagai air mengalir ke laut.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL media

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana